RESUME LESSON PLAN
1.
PENGEMBANGAN
PERSIAPAN MENGAJAR
Persiapan
mengajar pada hakikatnya memproyeksikan tentang apa yang akan dilakukan. Dengan
demikian, persiapan mengajar adalah memperkirakan tindakan yang akan dilakukan
dalam kegiatan pembelajaran.
Kompetensi
dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik , materi standar berfungsi
memberi makna terhadap kompetensi dasar, indikator hasil belajar berfungsi
menunjukan keberhasialn pembentukan kompetensi pada peserta didik.
A. Perencanaan
dan implementasi persiapan pengajaran.
Kerangka
perencanaan dan implementasi pengajaran melibatkan urutan langkah-langkah yang
sangat penting bagi para guru dalam mempersiapkan pelaksanaan rencana
pengajaran.[1]
B. Prinsip-prinsip
persiapan mengajar
Untuk
membuat perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran
yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur perencanaan pembelajaran
yang baik antara lain: mengidentifikasi kebutuhan siswa, tujuan yang hendak
dicapai, berbagai strategi dan skenario yang relevan yang digunakan untuk
mencapai tujuan, dan kriteria evaluasi (Hunt, 1999:24).
Berkenaan dengan hal tersebut, ( E.
Mulyasa, 2004:80) mengemukakan Beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan persiapan mengajar, yaitu:
a. Rumusan
kompetensi dalam persiapan mengajar harus jelas.
b. Persiapan
mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan
pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
c. Kegiatan-kegiatan
yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan
sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan. dll
C.
komponen-komponen persiapan mengajar
penyusunan program pembelajaran akan
bermuara pada persiapan mengajar, sebagai produk program pembelajaran jangka
pendek yang mencakup komponen kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.
Cyntia dalam Mulyasa (2004:82)
mengemukakan bahwa proses pembelajaran yang dimulai dengan fase persiapan
mengajar ketika kompetensi dan metodologi telah diidentifikasi, akan membantu
guru dalam mengorganisasikan materi standar serta mengantisipasi peserta didik
dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran.
Rencana
pembelajaran yang baik menurut Gagne danBriggs (1974) hendaknya mengandung 3
komponen yg disebut anchor point, yaitu:
1. Tujuan
pengajaran
2. Materi
pelajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan
pengalaman belajar
3. Evaluasi
keberhasilan.
Hal
ini sesuai dengan pendapat Kenneth D. Moore (2001: 126) bahwa komposisi format
rencana pembelajaran meliputi komponen:
a. Topik
bahasan
b. Tujuan
pembelajaran (kompetensi dan indikator kompetensi)
c. Materi
pelajaran
d. Kegiatan
pembelajaran
e. Alat/media
yang dibutuhkan, dan
f. Evaluasi
hasil belajar.
Kurikulum 2004 menghendaki
penyusunan persiapan mengajar mencakup komponen sbb:
a. Identitas
mata pelajaran
b. Kompetensi
dasar
c. Materi
pokok
d. Strategi
pembelajaran/tahapan-tahapan proses
belajar mengajar
e. Media
f. Penilaian
dan tindak lanjut
g. Sumber
bahan.
Unsur-unsur yang amat penting
masuk dalam rencana pengajaran adalah:
a. Apa
yang akan diajarkan
b. Bagaimana
mengajarkannya
c. Bagaimana
mengevaluasi hasil belajarnya
D. Rencana
pengajaran dalam kurikulum 1994 vs kurikulum 2004
Rencana
pengajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu, pada jenjang
dan kelas tertentu, untk topik trtentu, dan untuk satu pertemuan atau lebih.
Dalam kurikulum 1994 kita menggunakan prosedur kerja yang sama, dengan
kewajiban guru membuat program satuan pelajaran (PSP) untuk setiap pokok
bahasan yang tidak mutlak disampaikan dalam satu kali pertemuan, tapi mungkin
2,3,4, bahkan 5 kali pertemuan. Sedangkan untuk rencana pembelajaran harian
menggunakan rencana pembelajaran (RP) yang dibuat setiap akan mengajar.
E. Model
persiapan mengajar
Model persiapan mengajar sebagai
bahan pembanding dan stimulus untuk lahirnya model-model baru.
1. Model
ROPES
Hunt
menyebutnya rencana prosedur pembelajran sebagai prsiapan mengajar yang
disebutnya ROPES (review, overview,
presentation, exercise, summary) dengan langkah-langkah sbb:
1. Review
Kegiatan ini dilakukan
dalam waktu 1 sampai 5 menit.
a. Guru
bisa memulai pelajaran,jika perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari
bahan baru sudah mulai tumbuh.
b. Guru
hendak memulai pelajaran, jika interaksi antara guru dengan siswa sudah mulai
terbentuk.
2. Overview
Dilakukan
tidak terlalu lama berkisar antara 2-5 menit. Guru menjelaskan program
pembelajaran yang akan dilaksanakan pada
hari itu dengan menyampaikan isi (content) secara singkat dan strategi yang
akan digunakan dalam proses pembelajaran.
3. Presentation
Tahap
ini merupakan inti dari proses kegiatan belajar-mengajar, karena disini guru
sudah tidak lagi memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah
masuk pada proses telling, showing, dan doing.
4. Exercise
Suatu
proses untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah
mereka pahami.
5. Summary
Untuk memperkuat apa
yang telah mereka pahami dalam pross pembelajaran.
2. Model
satuan pelajaran
Pembelajaran atau proses belajar
mengajar adalah proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu , agar
pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan. Syaodih (1988:218) bahwa guru mengembangkan perencanaan dalam
bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, satu minggu, atau
beberapa jam saja.
Secara sistematis rencana pembelajaran
dalam bentuk satuan pelajaran adalah sbb:
a.identitas mata
pelajaran
b.kompetensi dan
indikator
c.materi pokok
d.media
e.strategi pembelajaran
tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran meliputi:
1. Kegiatan
awal
Kegiatan pendahuluan
dimaksudkan untuk memberikan motivasi terhadap siswa.
2. Melaksanakan
apersepsi atau penilaian kemampuan awal
Kegiatan ini dilakukan
untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal yang dimiliki siswa.
3. Menciptakan
kondisi awal pembelajaran
4. kegiatan
ini
Kegiatan inti adalah kegiatan utama untuk menanamkan, mengembangkan
pengetahuan, sikap dan keterampilan berkaitan dengan bahan kajian yang
bersangkutan.
Dalam
langkah ini, siswa dikelompok kan menjadi 3 kelompok pembelajaran, yaitu:
·
Pembelajaran klasikal
·
Pembelajaran kelompok
·
Kegiatan belajar
individual
5. penutup
Kegiatan
penutup ini adalah kegiatan yang memberikan penegasan atau kesimpulan dan
penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.
2.
PENGELOLAAN
PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR.
A. Pengelolaan
Siswa
Kedudukan siswa dalam kurikulum berbasis
kompetensi merupakan “produsen” artinya
siswa sendirilah yang mencari tahu pengetahuan yang dipelajarinya [2].
Guru
dapat mengatur dan merekayasa segala sesuatunya. Guru dapat mengatur siswa
berdasarkan situasi yang ada ketika proses belajar mengajar berlangsung.
Menurut Andree, 1982 ada beberapa macam pengelompokan siswa.
Pollard dalam hilda karli (2004:26) mengelompokan
kepribadian siswa dalam 5 kelompok besar, yaitu:
a. impulsivity/Reflexivity
b. extroversion
c. anxiety/adjustment
d. vacillation/perseverance
e. competitiveness/collaborativeness
perbuatan-perbuatan untuk mencapai
tujuan dengan cara yang tidak baik itu oleh Rudolf Dreikurs dan Pearl cassel yang dikutip oleh T. Raka Joni
digolongkan menjadi empat, yaitu:
1. tingkah
laku yang ingin mendapat perhatian orang
lain (attention getting behaviors).
2. Tingkah
laku yang ingin menunjukan kekuatan(power seeking behaviors).
3. Tingkah
laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
4. Peragaan
ketidakmampuan (passive behaviors).
Menurut Mamam Rahman, (1998:58) dari
keempat tindakan individu diatas sebagaimana dikemukakan oleh Rodolf Dreikurs
akan mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada
anak usia sekolah yaitu:
1. Pola
aktif konstruktif
2. Pola
aktif destruktif
3. Pola
pasif konstruktif
4. Pola
pasif detruktif
Dua kategori pokok tentang masalah
pengelolaan siswa, yaitu masalah individual dan masalah kelompok.
a. masalah
individu
ada 4 tipe prilaku yang kurang baik,
yaitu prilaku untuk menarik perhatian, prilaku untuk mencari kekuasaan, prilaku
untuk melampiaskan dendam, dan prilaku yang memperliahatkan ketidakmampuan.
Dreikurs dan Cassel mengajukan satu
tekhnik yang cukup sederhana untuk mendeteksi gejala tersebut, dengan parameter
sbb:
a) jika
guru merasa terganggu oleh tindakan murid, mungkin tujuan murid adalah untuk
mencari perhatian.
b) jika
guru merasa dikalahkan atau terancam, tujuan murid tersebut mungkin untuk
mencari kekuasaan.
c) jika
guru merasa sangat tersinggung, tujuannya mungkin untuk mencari pelampiasan
dendam.
d) jika
guru merasa tidak berdaya, tujuan anak mungkin untuk menunjukkan
ketidakmampuanya.
b. masalah
kelompok.
Johnson dan Bany mengidentifikasi 7
masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
1.
Kurangnya kesatuan
2.
Ketidaktaatan terhadap
standar tindakan dan prosedur kerja
3.
Reaksi negatif terhadap
pribadi anggota
4.
Pengakuan kelas
terhadap kelakuan guru
5.
Kecenderungan adanya
gangguan,kemacetan pekerjaan, dan kelakuan yang dibuat-buat
6.
Ketidakmampuan untuk
menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan
7.
Semangat juang yang
rendah dan adanya sikap bermusuhan.
c. Pemecahan
masalah siswa.
a.
usaha yang bersifat pencegahan
Tindakan pencegahan adalah tindakan
yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu
kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran.
Menurut Mulyani Sumantri (1999:283)
dalam mengembangkan keterampilan mengelola
siswa yang bersifat preventif, guru dapat menggunakan kemampuannya
dengan cara:
a.
Menunjukkan
sikap tanggap
b.
Membagi perhatian
c.
Memusatkan perhatian
kelompok
d.
Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
e.
Menegur
f.
Memberikan penguatan.
Pendapat lain mengemukakan bahwa
langkah-langkah pencegahan preventif yang ditempuh adalah:
a) peningkatan
kesadran diri sebagai guru
b) peningkatan
kesadaran peserta didik
c) sikap
polos dan tulus dari guru
d) .mengenal
alternatif pengelolaan
e) menciptakan
kontrak sosial
b.
usaha yang bersifat penyembuhan (kuratif)
berkenaan dengan kegiatan yang
bersifat penyembuhan Johar Permana (200:61) mengemukakan langkah-langkah sbb:
a) mengidentifikasi
masalah
b) menganalisis
masalah
c) menilai
alternatif-alternatif pemecahan
d) .mendapatkan
balikan
B.
Pengelolaan Guru
Beberapa prinsip dasar kode etik
tersebut sebagaimana dikemukakan oleh M. Jawad Ridla dalam bukunya al-fikr al-tarbawiyyu al-islamiyyu muqadimat
fi ushulih al-ijtima’iyyati wa al-aqlaniyyati yaitu:
1. Prinsip
pertama : keharusan ilmu dibarengi dengan pengamalannya.
2. Prinsip
kedua: bersikap kasih sayang terhadap siswa, dan memperlakukan mereka seperti
putra-putrinya sendiri.
3. Prinsip
ketiga: menghindarkan diri dari ketamakan.
4. Prinsip
keempat: bersikap toleran dan pemaaf.
5. Prinsip
kelima: menghargai kebenaran.
6. Prinsip
keenam: keadilan dan keinsafan.
7. Prinsip
ketujuh: rendah hati
8. Prinsip
kedelapan: ilmu adalah untuk pengabdian kepada orang lain.
9. Ing
ngarsa sung tulada: berarti didepan memberi teladan.
10. Ing
madya mangun karsa: berarti ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa.
11. Tut
wuri handayani: artinya dari belakang memberikan dorongan dan arahan.
C.
pengelolaan Pembelajaran
1. Prinsip-prinsip
pembelajaran
Terdapat beberapa prinsip yang dapat
dijadikan pelajaran bagi kita dari tindakan Rasulullah dalam menanamkan rasa
keimanan dan akhlak terhadap anak, yaitu:
a) Motivasi
b) Fokus
c) pembicaraannya
tidak terlalu cepat
d) repetisi
e) analogi
langsung
f) memperhatikan keragaman anak
g) memperhatikan
tiga tujuan moral
h) memperhatikan
pertumbuhan dan perkembangan anak (aspek psikologis / ilmu jiwa).
i)
menumbuhkan kreativitas
anak
j)
berbaur dengan anak-anak
k) Aplikasi
l)
do’a
m) teladan
2. Prosedur
pembelajaran
pendekatan
Depag (2004) menyajikan konsep
pendekatan terpadu dalam pembelajaran agama islam yang meliputi:
a.
Keimanan
b.
Pengalaman
c.
Pembiasaan
d.
Rasional
e.
Emosional
f.
Fungsional
g.
Keteladanan
3. Metode
1.
metode ceramah
Metode ceramah merupakan cara
menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada anak didik dilakukan
secara lisan.
Secara spesifik metode ceramah
bertujuan untuk:
a.
menciptakan landasan
pemikiran peserta didik melalui produk ceramah yaitu bahan tulisan peserta
didik sehingga peserta didik dapat belajar melalui bahan tertulis hasil
ceramah.
b.
menyajikan garis-garis
besar isi pelajaran dan permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran.
c.
merangsang peserta
didik untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pemerkayaan
belajar.dst
2.
metode tanya jawab
Metode tanya jawab adalah mengajukan
pertanyaan kepada peserta didik. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang untuk
berfikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
3.
Metode tulisan
Adalah metode mendidik dengan huruf
atau simbol apa pun, ini merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan
jembatan untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.
4.
metode diskusi
Merupakan
salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik
dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk
memperkuat pendapatnya.
5.
metode pemecahan
masalah (problem solving)
Merupakan
cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan,
menelaah dan berfikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis
masalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah.
6.
metode kisah
Pendidikan
dengan metode ini dapat membuka kesan mendalam pada jiwa seseorang (anak
didik), sehingga dapat mengubah hati nuraninya dan berupaya melakukan hal-hal
yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai dampak dari
kisah-kisah itu, apalagi penyampaian kisah-kisah tersebut dilakukan dengan cara
yang menyentuh hati dan perasaan.
7.
metode perumpamaan
Metode perumpamaan (al-amtsal)
adalah suatu metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan hakikat
dari realitas sesuatu.
8.
metode pemahaman dan
penalaran (al-ma’rifah wa al-nazhariyah)
4. Teknik
1.
teknik indoktrinasi
2.
teknik moral reasoning
3.
teknik meramalkan
konsekuensi
4.
teknik klarifikasi
5.
teknik internalisasi
C.
pengelolaan lingkungan
kelas
Iklim belajar yang kondusif
merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik
tersendiri bagi proses pembelajaran, sebaliknya iklim belajar yang kurang
menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
Lingkungan kondusif menurut E.
Mulyasa (2004:16) dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan
sebagaiberikut:
1. Memberikan
pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas
pembelajaran.
2. Memberikan
pembelajaran remedial
3. Mengembangkan
organisasi kelas yang efektif
4. Menciptakan
suasana kerjasama saling menghargai
5. Melibatkan
peserta didik dalam belajar-mengajar
6. Mengembangkan
proses pembelajaran
7. Mengembangkan
sistem evaluasi belajar.
D. Pengembangan
sumber dan bahan ajar
1.
sumber belajar (learning resource)
Menurut Cece Wijaya (1992:36) ada 6
jenis fungsi dalam pengembangan sumber belajar, yaitu:
a) fungsi
riset dan teori
menghasilkan dan mengetes
pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber belajar, pelajar, dan fungsi
tugas.
b) fungsi
desain
menjabarkan secara garis besar teori
teknologi pendidikan berikut isi mata-mata pelajarannya kedalam spesifikasinya
untuk dipakai sebagai sumber belajar.
c) fungsi
produksi dan penempatan
menjabarkan secara khusus
sumber-sumber kedalam sumber-sumber kongkret.
d) fungsi
evaluasi dan seleksi
untuk menentukan atau menilai
penerimaan (atau sejenis kriteria) sumber-sumber belajar oleh fungsi yang lain.
e) fungsi
organisasi dan pelayanan
membuat
atau menjadikan sumber-sumber dan informasi mudah diperoleh.
2.
bahan ajar
Adalah segala bentuk bahan yang
digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar
mengajar.
§ jenis
bahan ajar
1.
bahan ajar cetak,
contohnya : handout, buku,modul, lembar kegiatan
siswa,brosur,leaflet,wallchart, foto/gambar, model/maket.
2.
bahan ajar dengan
(audio), misalya : kaset/piringan hitam/compact disk dan radio.
3.
bahan ajar pandang dengar (audio Visual),
misalnya : video/film dan orang/nara sumber.
4.
bahan ajar interaktif.
3. PENILAIAN
BERBASIS KELAS
A. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian Berbasis Kelas (PBK)
adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK
merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar peserta
didik yang dilakukan oleh guru untuk menetapkan tingkat pencapaian dan
penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan ( standar komptensi,
komptensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar). Penilaian Berbasis
Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi
atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan
kemajuan siswa.
Depdiknas (2002), menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas
(PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK
itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara
terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan
kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance),
dan tes tertulis (paper and pen). Fokus penilaian diarahkan pada
penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian
prestasi siswa.
B. Manfaat, Keunggulan dan Prinsip Penilaian Berbasis
Kelas.
1) Hasil Penilaian Berbasis Kelas bermanfaat untuk :
- Umpan balik bagi siswa dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi untuk memperbaiki hasil belajarnya.
- Memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar siswa sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya.
- Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas, dsb
2) Keunggulan Penilaian Berbasis Kelas adalah
- Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun non formal diadakan secara terpadu, dalam suasana yang menyenangkan, serta senantiasa memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui, dipahami dan mampu dikerjakan siswa.
- Pencapaian hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok (norm reference assessment), tetapi dibandingkan dengan kemampuan sebelumnya kriteria pencapaian kompetensi, standar pencapaian, dan level pencapaian nasional, dalam rangka membantu anak mencapai apa yang ingin dicapai bukan untuk menghakiminya.
- Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara, agar kemajuan belajar siswa dapat terdeteksi secara lengkap.
- Siswa perlu dituntut agar dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan semua potensi dalam menanggapi, mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri, bukan sekedar melatih siswa memilih jawaban yang tersedia.
- Untuk menentukan ada tidaknya kemajuan belajar dan perlu tidaknya bantuan secara berencana, bertahap dan berkesinambungan, berdasarkan fakta dan bukti yang cukup akurat.
3) Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas
- Valid, penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa.
- Mendidik, penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa.
- Berorientasi pada kompetensi, penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
- Adil, penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa dan gender.
- Terbuka, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
- Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya. (Depdiknas, 2002).
C. Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotor
sebagai Objek Evaluasi Hasil Belajar.
1. Ranah Kognitif.
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental
(otak).Menurut Bloom dalam Sudijono (2003:49) segala upaya yang menyangkut
aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif
terdapat 6 (enam) jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang yang terendah
sampai jenjang yang paling tinggi, yaitu :
1. Pengetahuan (Knowledge),
2. Pemahaman (Comprehension),
3. Penerapan (Application),
4. Analisis (Analysis.
5. Sintesis (Syntesis), dan
6. Penilaian/penghargaan (Evaluation).
Keenam jenjang berpikir ranah
kognitif ini bersifat kontinum dan everlap (tumpang tindih), dimana ranah yang
lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada di bawahnya.
2. Ranah Afektif.
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.Beberapa
pakar menyatakan bhwa sukap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila
seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif
ditaksonomi menjadi lebih rinci ke dalam 5 (lima) jenjang, yaitu:
1. Menerima atau memperhatikan (Receiving/Attending),
2. menanggapi (Responding),
3. menilai(Valuing).
4. menilai atau menghargai,
5. mengatur (Organization),
3. Ranah Psikomotor.
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan
keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima
pengalaman belajar tertentu.
D. Strategi Penilaian Berbasis Kelas.
Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar
dalam bidang evaluasi/ penilaian pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil
belajar ke dalam 6 (enam) langkah pokok, yakni:
1. Menyusun Rencana Evaluasi Hasil Belajar.
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun
lebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil
belajar itu umumnya oleh Sudijono (2003:59) mencakup enam jenis kegiatan,
yakni:
1. Merumuskan tujuan dilaksanakannya
evaluasi.
2. menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi,
3. memilih dan menentukan teknik yang
akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.
4. Menyusun alat-alat pengukur dan
penilaian hasil belajar peserta didik,
5. Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria
yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap
data hasil evaluasi dan (
6. Menentukan frekuensi dari kegiatan
evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil
belajar itu akan dilaksanakan).
2. Menghimpun Data.
Dalam evaluasi hasil belajar, wujud
nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya
dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu
menggunakan teknik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara, atau angket
dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check
list, interview guide, atau questionnaire (apabila evaluasi hasil
belajar menggunakan teknis non tes).
3. Melakukan Verifikasi Data.
Data yang telah berhasil dihimpun
harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu
dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data
dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat
memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok
individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang
akan menguburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta
diolah).
4. Mengolah dan Menganalisis Data.
Mengolah dan menganalisis hasil
evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang
telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi.Untuk keperluan itu, maka data
hasil evaluasi perlu disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga “dapat
berbicara”. Dalam menggolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat
dipergunakan teknik statistik dan atau teknik non statistik, tergantung kepada
jenis data yang akan diolah atau dianalisis. Dengan analisis statistic
misalnya, penyusunan atau pengaturan dan penyajian data lewat tabel-tabel,
grafik, atau diagram, perhitungan-perhitungan rata-rata, standar deviasi,
pengukuran korelasi, uji benda mean, atau uji benda frekuensi dan sebagainya
akan dapat menghasilkan informasi-informasi yang lebih lengkap dan amat
berharga.
5. Memberikan Interpretasi dan Menarik
Kesimpulan.
Memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar
pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam
data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu.Atas dasar
interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan
kesimpulan-kesimpulan tertentu.Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah
barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.
6.
Tindak Lanjut Hasil Evaluasi.
Bertitik tolak dari hasil evaluasi yang telah disusun,
diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna
yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya evaluator akan mengambil
keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai
tindak lanjut dari kegiatan hasil evaluasi tersebut.
E.
Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas dalam Proses Pembelajaran.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara
peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah
yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang
mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari diri individu maupun
faktor eksternal yang datang dari lingkungan.
Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup 3 (tiga) tahapan
yang dalam 3 (tiga) tahapan tersebut dapat dilakukan penilaian kelas. Tiga
tahapan dimaksud, antara lain:
1.
Pretest (tes awal) 3.
Postest ( tes akhir)

