Rabu, 22 Mei 2013




RESUME LESSON PLAN


1.      PENGEMBANGAN PERSIAPAN MENGAJAR
Persiapan mengajar pada hakikatnya memproyeksikan tentang apa yang akan dilakukan. Dengan demikian, persiapan mengajar adalah memperkirakan tindakan yang akan dilakukan dalam kegiatan pembelajaran.
Kompetensi dasar berfungsi mengembangkan potensi peserta didik , materi standar berfungsi memberi makna terhadap kompetensi dasar, indikator hasil belajar berfungsi menunjukan keberhasialn pembentukan kompetensi pada peserta didik.
A.    Perencanaan dan implementasi persiapan pengajaran.
Kerangka perencanaan dan implementasi pengajaran melibatkan urutan langkah-langkah yang sangat penting bagi para guru dalam mempersiapkan pelaksanaan rencana pengajaran.[1]
B.     Prinsip-prinsip persiapan mengajar
Untuk membuat perencanaan yang baik dan dapat menyelenggarakan proses pembelajaran yang ideal, setiap guru harus mengetahui unsur-unsur perencanaan pembelajaran yang baik antara lain: mengidentifikasi kebutuhan siswa, tujuan yang hendak dicapai, berbagai strategi dan skenario yang relevan yang digunakan untuk mencapai tujuan, dan kriteria evaluasi (Hunt, 1999:24).
Berkenaan dengan hal tersebut, ( E. Mulyasa, 2004:80) mengemukakan Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengembangkan persiapan mengajar, yaitu:
a.       Rumusan kompetensi dalam persiapan mengajar harus jelas.
b.      Persiapan mengajar harus sederhana dan fleksibel serta dapat dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran dan pembentukan kompetensi peserta didik.
c.       Kegiatan-kegiatan yang disusun dan dikembangkan dalam persiapan mengajar harus menunjang dan sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan. dll
C. komponen-komponen persiapan mengajar
        penyusunan program pembelajaran akan bermuara pada persiapan mengajar, sebagai produk program pembelajaran jangka pendek yang mencakup komponen kegiatan belajar dan proses pelaksanaan program.
        Cyntia dalam Mulyasa (2004:82) mengemukakan bahwa proses pembelajaran yang dimulai dengan fase persiapan mengajar ketika kompetensi dan metodologi telah diidentifikasi, akan membantu guru dalam mengorganisasikan materi standar serta mengantisipasi peserta didik dan masalah-masalah yang mungkin timbul dalam pembelajaran.
                        Rencana pembelajaran yang baik menurut Gagne danBriggs (1974) hendaknya mengandung 3 komponen yg disebut anchor point, yaitu:
1.      Tujuan pengajaran
2.      Materi pelajaran/bahan ajar, pendekatan dan metode mengajar, media pengajaran dan pengalaman belajar
3.      Evaluasi keberhasilan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Kenneth D. Moore (2001: 126) bahwa komposisi format rencana  pembelajaran meliputi komponen:
a.       Topik bahasan
b.      Tujuan pembelajaran (kompetensi dan indikator kompetensi)
c.       Materi pelajaran
d.      Kegiatan pembelajaran
e.       Alat/media yang dibutuhkan, dan
f.       Evaluasi hasil belajar.
Kurikulum 2004 menghendaki penyusunan persiapan mengajar mencakup komponen sbb:
a.       Identitas mata pelajaran
b.      Kompetensi dasar
c.       Materi pokok
d.      Strategi pembelajaran/tahapan-tahapan  proses belajar mengajar
e.       Media
f.       Penilaian dan tindak lanjut
g.      Sumber bahan.


Unsur-unsur yang amat penting masuk dalam rencana pengajaran adalah:
a.       Apa yang akan diajarkan
b.      Bagaimana mengajarkannya
c.       Bagaimana mengevaluasi hasil belajarnya

D.    Rencana pengajaran dalam kurikulum 1994 vs kurikulum 2004
                        Rencana pengajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu, pada jenjang dan kelas tertentu, untk topik trtentu, dan untuk satu pertemuan atau lebih. Dalam kurikulum 1994 kita menggunakan prosedur kerja yang sama, dengan kewajiban guru membuat program satuan pelajaran (PSP) untuk setiap pokok bahasan yang tidak mutlak disampaikan dalam satu kali pertemuan, tapi mungkin 2,3,4, bahkan 5 kali pertemuan. Sedangkan untuk rencana pembelajaran harian menggunakan rencana pembelajaran (RP) yang dibuat setiap akan mengajar.
E.      Model persiapan mengajar
            Model persiapan mengajar sebagai bahan pembanding dan stimulus untuk lahirnya model-model baru.
1.      Model ROPES
Hunt menyebutnya rencana prosedur pembelajran sebagai prsiapan mengajar yang disebutnya  ROPES (review, overview, presentation, exercise, summary) dengan langkah-langkah sbb:
1.      Review
Kegiatan ini dilakukan dalam waktu 1 sampai 5 menit.
a.       Guru bisa memulai pelajaran,jika perhatian dan motivasi siswa untuk mempelajari bahan baru sudah mulai tumbuh.
b.      Guru hendak memulai pelajaran, jika interaksi antara guru dengan siswa sudah mulai terbentuk.

2.      Overview
Dilakukan tidak terlalu lama berkisar antara 2-5 menit. Guru menjelaskan program pembelajaran  yang akan dilaksanakan pada hari itu dengan menyampaikan isi (content) secara singkat dan strategi yang akan digunakan dalam proses pembelajaran.

3.      Presentation
Tahap ini merupakan inti dari proses kegiatan belajar-mengajar, karena disini guru sudah tidak lagi memberikan penjelasan-penjelasan singkat, akan tetapi sudah masuk pada proses telling, showing, dan doing.

4.      Exercise
Suatu proses untuk memberikan kesempatan kepada siswa mempraktekkan apa yang telah mereka pahami.

5.      Summary
Untuk memperkuat apa yang telah mereka pahami dalam pross pembelajaran.


2.      Model satuan pelajaran
Pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah proses yang diatur dengan langkah-langkah tertentu , agar pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan. Syaodih (1988:218)  bahwa guru mengembangkan perencanaan dalam bidangnya untuk jangka waktu satu tahun atau satu semester, satu minggu, atau beberapa jam saja.
Secara sistematis rencana pembelajaran dalam bentuk satuan pelajaran adalah sbb:
a.identitas mata pelajaran
b.kompetensi dan indikator
c.materi pokok
d.media
e.strategi pembelajaran
         
          tahapan-tahapan kegiatan pembelajaran meliputi:
1.      Kegiatan awal
Kegiatan pendahuluan dimaksudkan untuk memberikan motivasi terhadap siswa.
2.      Melaksanakan apersepsi atau penilaian kemampuan awal
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan awal yang dimiliki siswa.
3.      Menciptakan kondisi awal pembelajaran
4.      kegiatan ini
               Kegiatan inti adalah kegiatan utama untuk menanamkan, mengembangkan pengetahuan, sikap dan keterampilan berkaitan dengan bahan kajian yang bersangkutan.
Dalam langkah ini, siswa dikelompok kan menjadi 3 kelompok pembelajaran, yaitu:
·         Pembelajaran klasikal
·         Pembelajaran kelompok
·         Kegiatan belajar individual

5.      penutup
Kegiatan penutup ini adalah kegiatan yang memberikan penegasan atau kesimpulan dan penilaian terhadap penguasaan bahan kajian yang diberikan pada kegiatan inti.

2.      PENGELOLAAN PEMBELAJARAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR.
A.       Pengelolaan Siswa
Kedudukan siswa dalam kurikulum berbasis kompetensi merupakan “produsen” artinya  siswa sendirilah yang mencari tahu pengetahuan yang dipelajarinya [2].

                   Guru dapat mengatur dan merekayasa segala sesuatunya. Guru dapat mengatur siswa berdasarkan situasi yang ada ketika proses belajar mengajar berlangsung. Menurut Andree, 1982 ada beberapa macam pengelompokan siswa.
Pollard  dalam hilda karli (2004:26) mengelompokan kepribadian siswa dalam 5 kelompok besar, yaitu:

a.       impulsivity/Reflexivity
b.      extroversion
c.       anxiety/adjustment
d.      vacillation/perseverance
e.       competitiveness/collaborativeness
            perbuatan-perbuatan untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak baik itu oleh Rudolf Dreikurs dan Pearl  cassel yang dikutip oleh T. Raka Joni digolongkan menjadi empat, yaitu:
1.      tingkah laku  yang ingin mendapat perhatian orang lain (attention getting behaviors).
2.      Tingkah laku yang ingin menunjukan kekuatan(power seeking behaviors).
3.      Tingkah laku yang bertujuan menyakiti orang lain (revenge seeking behaviors).
4.      Peragaan ketidakmampuan (passive behaviors).
            Menurut Mamam Rahman, (1998:58) dari keempat tindakan individu diatas sebagaimana dikemukakan oleh Rodolf Dreikurs akan mengakibatkan terbentuknya empat pola tingkah laku yang sering nampak pada anak usia sekolah yaitu:
1.      Pola aktif konstruktif
2.      Pola aktif destruktif
3.      Pola pasif konstruktif
4.      Pola pasif detruktif
Dua kategori pokok tentang masalah pengelolaan siswa, yaitu masalah individual dan masalah kelompok.
a.       masalah individu
            ada 4 tipe prilaku yang kurang baik, yaitu prilaku untuk menarik perhatian, prilaku untuk mencari kekuasaan, prilaku untuk melampiaskan dendam, dan prilaku yang memperliahatkan ketidakmampuan.
            Dreikurs dan Cassel mengajukan satu tekhnik yang cukup sederhana untuk mendeteksi gejala tersebut, dengan parameter sbb:
a)      jika guru merasa terganggu oleh tindakan murid, mungkin tujuan murid adalah untuk mencari perhatian.
b)      jika guru merasa dikalahkan atau terancam, tujuan murid tersebut mungkin untuk mencari kekuasaan.
c)      jika guru merasa sangat tersinggung, tujuannya mungkin untuk mencari pelampiasan dendam.
d)     jika guru merasa tidak berdaya, tujuan anak mungkin untuk menunjukkan ketidakmampuanya.

b.      masalah kelompok.
            Johnson dan Bany mengidentifikasi 7 masalah kelompok dalam pengelolaan kelas, yaitu:
1.      Kurangnya kesatuan
2.      Ketidaktaatan terhadap standar tindakan dan prosedur kerja
3.      Reaksi negatif terhadap pribadi anggota
4.      Pengakuan kelas terhadap kelakuan guru
5.      Kecenderungan adanya gangguan,kemacetan pekerjaan, dan kelakuan yang dibuat-buat
6.      Ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan
7.      Semangat juang yang rendah dan adanya sikap bermusuhan.

c.       Pemecahan masalah siswa.
a. usaha yang bersifat pencegahan
            Tindakan pencegahan adalah tindakan yang dilakukan sebelum munculnya tingkah laku yang menyimpang yang mengganggu kondisi optimal berlangsungnya pembelajaran.
            Menurut Mulyani Sumantri (1999:283) dalam mengembangkan keterampilan mengelola  siswa yang bersifat preventif, guru dapat menggunakan kemampuannya dengan cara:

a.       Menunjukkan sikap tanggap
b.      Membagi perhatian
c.       Memusatkan perhatian kelompok
d.       Memberi petunjuk-petunjuk yang jelas
e.       Menegur
f.       Memberikan penguatan.

            Pendapat lain mengemukakan bahwa langkah-langkah pencegahan preventif yang ditempuh adalah:
a)      peningkatan kesadran diri sebagai guru
b)      peningkatan kesadaran peserta didik
c)      sikap polos dan tulus dari guru
d)     .mengenal alternatif pengelolaan
e)      menciptakan kontrak sosial

b. usaha yang bersifat penyembuhan (kuratif)
            berkenaan dengan kegiatan yang bersifat penyembuhan Johar Permana (200:61) mengemukakan langkah-langkah sbb:
a)      mengidentifikasi masalah
b)      menganalisis masalah
c)      menilai alternatif-alternatif pemecahan
d)     .mendapatkan balikan

B.     Pengelolaan Guru
            Beberapa prinsip dasar kode etik tersebut sebagaimana dikemukakan oleh M. Jawad Ridla dalam bukunya al-fikr al-tarbawiyyu al-islamiyyu muqadimat fi ushulih al-ijtima’iyyati wa al-aqlaniyyati yaitu:


1.      Prinsip pertama : keharusan ilmu dibarengi dengan pengamalannya.
2.      Prinsip kedua: bersikap kasih sayang terhadap siswa, dan memperlakukan mereka seperti putra-putrinya sendiri.
3.      Prinsip ketiga: menghindarkan diri dari ketamakan.
4.      Prinsip keempat: bersikap toleran dan pemaaf.
5.      Prinsip kelima: menghargai kebenaran.
6.      Prinsip keenam: keadilan dan keinsafan.
7.      Prinsip ketujuh: rendah hati
8.      Prinsip kedelapan: ilmu adalah untuk pengabdian kepada orang lain.
9.      Ing ngarsa sung tulada: berarti didepan memberi teladan.
10.  Ing madya mangun karsa: berarti ditengah menciptakan peluang untuk berprakarsa.
11.  Tut wuri handayani: artinya dari belakang memberikan dorongan dan arahan.
C. pengelolaan Pembelajaran
1.      Prinsip-prinsip pembelajaran
            Terdapat beberapa prinsip yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita dari tindakan Rasulullah dalam menanamkan rasa keimanan dan akhlak terhadap anak, yaitu:
a)      Motivasi
b)      Fokus
c)      pembicaraannya tidak terlalu cepat
d)     repetisi
e)      analogi langsung
f)        memperhatikan keragaman anak
g)      memperhatikan tiga tujuan moral
h)      memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak (aspek psikologis / ilmu jiwa).
i)        menumbuhkan kreativitas anak
j)         berbaur dengan anak-anak
k)      Aplikasi
l)        do’a
m)    teladan


2.      Prosedur pembelajaran
             pendekatan
            Depag (2004) menyajikan konsep pendekatan terpadu dalam pembelajaran agama islam yang meliputi:
a.       Keimanan
b.      Pengalaman
c.       Pembiasaan
d.      Rasional
e.       Emosional
f.       Fungsional
g.      Keteladanan
3.      Metode
1.      metode ceramah
            Metode ceramah merupakan cara menyampaikan materi ilmu pengetahuan dan agama kepada anak didik dilakukan secara lisan.
            Secara spesifik metode ceramah bertujuan untuk:
a.       menciptakan landasan pemikiran peserta didik melalui produk ceramah yaitu bahan tulisan peserta didik sehingga peserta didik dapat belajar melalui bahan tertulis hasil ceramah.
b.      menyajikan garis-garis besar isi pelajaran dan permasalahan yang terdapat dalam isi pelajaran.
c.       merangsang peserta didik untuk belajar mandiri dan menumbuhkan rasa ingin tahu melalui pemerkayaan belajar.dst
2.      metode tanya jawab
            Metode tanya jawab adalah mengajukan pertanyaan kepada peserta didik. Metode ini dimaksudkan untuk merangsang untuk berfikir dan membimbingnya dalam mencapai kebenaran.
3.      Metode tulisan
            Adalah metode mendidik dengan huruf atau simbol apa pun, ini merupakan suatu hal yang sangat penting dan merupakan jembatan untuk mengetahui segala sesuatu yang sebelumnya tidak diketahui.

4.      metode diskusi
                        Merupakan salah satu cara mendidik yang berupaya memecahkan masalah yang dihadapi, baik dua orang atau lebih yang masing-masing mengajukan argumentasinya untuk memperkuat pendapatnya.
5.      metode pemecahan masalah (problem solving)
                        Merupakan cara memberikan pengertian dengan menstimulasi anak didik untuk memperhatikan, menelaah dan berfikir tentang suatu masalah untuk selanjutnya menganalisis masalah tersebut sebagai upaya untuk memecahkan masalah.
6.      metode kisah
                        Pendidikan dengan metode ini dapat membuka kesan mendalam pada jiwa seseorang (anak didik), sehingga dapat mengubah hati nuraninya dan berupaya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai dampak dari kisah-kisah itu, apalagi penyampaian kisah-kisah tersebut dilakukan dengan cara yang menyentuh hati dan perasaan.
7.      metode perumpamaan
            Metode perumpamaan (al-amtsal) adalah suatu metode yang digunakan untuk mengungkapkan suatu sifat dan hakikat dari realitas sesuatu.
8.      metode pemahaman dan penalaran (al-ma’rifah wa al-nazhariyah)
4.      Teknik
1.      teknik indoktrinasi
2.      teknik moral reasoning
3.      teknik meramalkan konsekuensi
4.      teknik klarifikasi
5.       teknik internalisasi



C.     pengelolaan lingkungan kelas
            Iklim belajar yang kondusif merupakan tulang punggung dan faktor pendorong yang dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi proses pembelajaran, sebaliknya iklim belajar yang kurang menyenangkan akan menimbulkan kejenuhan dan rasa bosan.
            Lingkungan kondusif menurut E. Mulyasa (2004:16) dapat dikembangkan melalui berbagai layanan dan kegiatan sebagaiberikut:
1.      Memberikan pilihan bagi peserta didik yang lambat maupun yang cepat dalam melakukan tugas pembelajaran.
2.      Memberikan pembelajaran remedial
3.      Mengembangkan organisasi kelas yang efektif
4.      Menciptakan suasana kerjasama saling menghargai
5.      Melibatkan peserta didik dalam belajar-mengajar
6.      Mengembangkan proses pembelajaran
7.      Mengembangkan sistem evaluasi belajar.

D.  Pengembangan sumber dan bahan ajar
1.      sumber belajar (learning resource)
            Menurut Cece Wijaya (1992:36) ada 6 jenis fungsi dalam pengembangan sumber belajar, yaitu:
a)      fungsi riset dan teori
            menghasilkan dan mengetes pengetahuan yang bertalian dengan sumber-sumber belajar, pelajar, dan fungsi tugas.
b)      fungsi desain
            menjabarkan secara garis besar teori teknologi pendidikan berikut isi mata-mata pelajarannya kedalam spesifikasinya untuk dipakai sebagai sumber belajar.
c)      fungsi produksi dan penempatan
            menjabarkan secara khusus sumber-sumber kedalam sumber-sumber kongkret.
d)     fungsi evaluasi dan seleksi
            untuk menentukan atau menilai penerimaan (atau sejenis kriteria) sumber-sumber belajar oleh fungsi yang lain.
e)      fungsi organisasi dan pelayanan membuat atau menjadikan sumber-sumber dan informasi mudah diperoleh.
2.      bahan ajar
            Adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktor dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.
§  jenis bahan ajar
1.      bahan ajar cetak, contohnya : handout, buku,modul, lembar kegiatan siswa,brosur,leaflet,wallchart, foto/gambar, model/maket.
2.      bahan ajar dengan (audio), misalya : kaset/piringan hitam/compact disk dan radio.
3.       bahan ajar pandang dengar (audio Visual), misalnya : video/film dan orang/nara sumber.
4.       bahan ajar interaktif.

3. PENILAIAN BERBASIS KELAS
A. Pengertian Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) adalah penilaian yang dilakukan oleh guru dalam rangka proses pembelajaran. PBK merupakan proses pengumpulan dan penggunaan informasi hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru  untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan peserta didik terhadap tujuan pendidikan ( standar komptensi, komptensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar). Penilaian Berbasis Kelas merupakan prinsip, sasaran yang akurat dan konsisten tentang kompetensi atau hasil belajar siswa serta pernyataan yang jelas mengenai perkembangan dan kemajuan siswa.
 Depdiknas (2002),  menjelaskan bahwa Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam kurikulum berbasis kompetensi. PBK itu sendiri pada dasarnya merupakan kegiatan penilaian yang dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar yang dilakukan dengan mengumpulkan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper and pen). Fokus penilaian diarahkan pada penguasaan kompetensi dan hasil belajar siswa sesuai dengan level pencapaian prestasi siswa.
B.  Manfaat, Keunggulan dan Prinsip Penilaian Berbasis Kelas.
1)  Hasil Penilaian Berbasis Kelas bermanfaat untuk :
  1. Umpan balik bagi siswa dalam mengetahui kemampuan dan kekurangannya sehingga menimbulkan motivasi untuk memperbaiki hasil belajarnya.
  2. Memantau kemajuan dan mendiagnosis kemampuan belajar siswa sehingga memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remidiasi untuk memenuhi kebutuhan siswa sesuai dengan kemajuan dan kemampuannya.
  3. Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program pembelajarannya di kelas, dsb
2) Keunggulan Penilaian Berbasis Kelas adalah
  1. Pengumpulan informasi kemajuan belajar baik formal maupun non formal diadakan secara terpadu, dalam suasana yang menyenangkan, serta senantiasa memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik bagi siswa untuk menunjukkan apa yang diketahui, dipahami dan mampu dikerjakan siswa.
  2. Pencapaian hasil belajar siswa tidak dibandingkan dengan prestasi kelompok (norm reference assessment), tetapi dibandingkan dengan kemampuan sebelumnya kriteria pencapaian kompetensi, standar pencapaian, dan level pencapaian nasional, dalam rangka membantu anak mencapai apa yang ingin dicapai bukan untuk menghakiminya.
  3. Pengumpulan informasi menggunakan berbagai cara, agar kemajuan belajar siswa dapat terdeteksi secara lengkap.
  4. Siswa perlu dituntut agar dapat mengeksplorasi dan memotivasi diri untuk mengerahkan semua potensi dalam menanggapi, mengatasi semua masalah yang dihadapi dengan caranya sendiri, bukan sekedar melatih siswa memilih jawaban yang tersedia.
  5. Untuk menentukan ada tidaknya kemajuan belajar dan perlu tidaknya bantuan secara berencana, bertahap dan berkesinambungan, berdasarkan fakta dan bukti yang cukup akurat.

3)  Prinsip-prinsip Penilaian Berbasis Kelas
  1. Valid, penilaian memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar siswa.
  2. Mendidik, penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar siswa.
  3. Berorientasi pada kompetensi, penilaian harus menilai pencapaian kompetensi yang dimaksud dalam kurikulum.
  4. Adil, penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa dan gender.
  5. Terbuka, kriteria penilaian dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua pihak.
  6. Berkesinambungan, penilaian dilakukan secara berencana, bertahap dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa sebagai hasil kegiatan belajarnya.  (Depdiknas, 2002).
C. Ranah Kognitif, Ranah Afektif dan Ranah Psikomotor sebagai Objek Evaluasi Hasil  Belajar.
1. Ranah Kognitif.
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak).Menurut Bloom dalam Sudijono (2003:49) segala upaya yang menyangkut aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif terdapat 6 (enam) jenjang proses berpikir, mulai dari jenjang yang terendah sampai jenjang yang paling tinggi, yaitu :
1.      Pengetahuan (Knowledge),
2.      Pemahaman (Comprehension),
3.      Penerapan (Application),
4.      Analisis (Analysis.
5.      Sintesis (Syntesis), dan
6.      Penilaian/penghargaan (Evaluation).
Keenam jenjang berpikir  ranah kognitif ini bersifat kontinum dan everlap (tumpang tindih), dimana ranah yang lebih tinggi meliputi semua ranah yang ada di bawahnya.


2. Ranah Afektif.
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.Beberapa pakar menyatakan bhwa sukap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki penguasaan kognitif tingkat tinggi. Ranah afektif ditaksonomi  menjadi lebih rinci ke dalam 5 (lima) jenjang, yaitu:
1.      Menerima atau memperhatikan (Receiving/Attending),
2.       menanggapi (Responding),
3.      menilai(Valuing).
4.      menilai atau menghargai,
5.      mengatur (Organization),

3.  Ranah Psikomotor.
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu.
D. Strategi Penilaian Berbasis Kelas.
Sekalipun tidak selalu sama, namun pada umumnya para pakar dalam bidang evaluasi/ penilaian pendidikan merinci kegiatan evaluasi hasil belajar ke dalam 6 (enam) langkah pokok, yakni:

1.  Menyusun Rencana Evaluasi Hasil Belajar.
Sebelum evaluasi hasil belajar dilaksanakan, harus disusun lebih dahulu perencanaannya secara baik dan matang. Perencanaan evaluasi hasil belajar itu umumnya oleh Sudijono (2003:59) mencakup enam jenis kegiatan, yakni:
1.      Merumuskan tujuan dilaksanakannya evaluasi.
2.       menetapkan aspek-aspek yang akan dievaluasi,
3.      memilih dan menentukan teknik yang akan dipergunakan di dalam pelaksanaan evaluasi.
4.      Menyusun alat-alat pengukur dan penilaian hasil belajar peserta didik,
5.       Menentukan tolak ukur, norma atau kriteria yang akan dijadikan pegangan atau patokan dalam memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi dan (
6.      Menentukan frekuensi dari kegiatan evaluasi hasil belajar itu sendiri (kapan dan seberapa kali evaluasi hasil belajar itu akan dilaksanakan).
2.  Menghimpun Data.
Dalam evaluasi hasil belajar, wujud nyata dari kegiatan menghimpun data adalah melaksanakan pengukuran, misalnya dengan menyelenggarakan tes hasil belajar (apabila evaluasi hasil belajar itu menggunakan teknik tes), atau melakukan pengamatan, wawancara, atau angket dengan menggunakan instrumen-instrumen tertentu berupa rating scale, check list, interview guide, atau questionnaire (apabila evaluasi hasil belajar menggunakan teknis non tes).
3.  Melakukan Verifikasi Data.
Data yang telah berhasil dihimpun harus disaring lebih dahulu sebelum diolah lebih lanjut. Proses penyaringan itu dikenal dengan istilah penelitian data atau verifikasi data. Verifikasi data dimaksudkan untuk dapat memisahkan data yang “baik” (yaitu data yang dapat memperjelas gambaran yang akan diperoleh mengenai diri individu atau sekelompok individu yang sedang dievaluasi) dari data yang “kurang baik” (yaitu data yang akan menguburkan gambaran yang akan diperoleh apabila data itu ikut serta diolah).
4.   Mengolah dan Menganalisis Data.
Mengolah dan menganalisis hasil evaluasi dilakukan dengan maksud untuk memberikan makna terhadap data yang telah berhasil dihimpun dalam kegiatan evaluasi.Untuk keperluan itu, maka data hasil evaluasi perlu disusun dan diatur sedemikian rupa sehingga “dapat berbicara”. Dalam menggolah dan menganalisis data hasil evaluasi itu dapat dipergunakan teknik statistik dan atau teknik non statistik, tergantung kepada jenis data yang akan diolah atau dianalisis. Dengan analisis statistic misalnya, penyusunan atau pengaturan dan penyajian data lewat tabel-tabel, grafik, atau diagram, perhitungan-perhitungan rata-rata, standar deviasi, pengukuran korelasi, uji benda mean, atau uji benda frekuensi dan sebagainya akan dapat menghasilkan informasi-informasi yang lebih lengkap dan amat berharga.
5.   Memberikan Interpretasi dan Menarik Kesimpulan.
Memberikan interpretasi terhadap data hasil evaluasi belajar pada hakikatnya adalah merupakan verbalisasi dari makna yang terkandung dalam data yang telah mengalami pengolahan dan penganalisisan itu.Atas dasar interpretasi terhadap data hasil evaluasi itu pada akhirnya dapat dikemukakan kesimpulan-kesimpulan tertentu.Kesimpulan-kesimpulan hasil evaluasi itu sudah barang tentu harus mengacu kepada tujuan dilakukannya evaluasi itu sendiri.
6.  Tindak Lanjut Hasil Evaluasi.
Bertitik tolak dari hasil evaluasi yang telah disusun, diatur, diolah, dianalisis dan disimpulkan sehingga dapat diketahui apa makna yang terkandung di dalamnya, maka pada akhirnya evaluator akan mengambil keputusan dan merumuskan kebijakan-kebijakan yang dipandang perlu sebagai tindak lanjut dari kegiatan hasil evaluasi tersebut.
E.  Pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas dalam Proses Pembelajaran.
Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari diri individu maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungan.
Dalam pembelajaran tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik.
Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup 3 (tiga) tahapan yang dalam 3 (tiga) tahapan tersebut dapat dilakukan penilaian kelas. Tiga tahapan dimaksud, antara lain:
1.      Pretest (tes awal)
2.      Proses Pembelajaran.
3.       Postest (tes akhir).


[1] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung:oktober 2011), hal.92
[2] Abdul Majid, Perencanaan Pembelajaran, (Bandung:oktober 2011), hal 112

Tidak ada komentar:

Posting Komentar